Survei Kebahagiaan Keluarga Indonesia Bag3

“Kami sangat bangga melihat minat dan kreasi pelajar Indonesia yang tinggi dalam memproduksi film berkualitas. Dengan bakat dan kreativitas yang sudah ada, kami berharap pelatihan ini dapat mengasah bakat para finalis untuk memproduksi fi lm-fi lm pendek di mana 3 karya terbaik nasional akan mewakili Indonesia dalam kompetisi KWN tingkat dunia April 2016 mendatang,” ungkap

Baca juga : Kerja di Jerman

Viya Arsawireja sebagai Corporate Communication Manager PT. Panasonic Gobel Indonesia Pada kesempatan yang sama, Salman Aristo, penulis naskah senior Indonesia sekaligus yang bertindak sebagai pemberi materi dalam pelatihan KWN 2015 menyebutkan kebanggaannya melihat potensi pelajar Indonesia yang besar di bidang perfilman. “Bagi saya, berkolaborasi dengan pihakpihak yang peduli terhadap pengembangan minat dan bakat generasi muda Indonesia, seperti Panasonic, juga berarti telah berkontribusi kepada perkembangan industri fi lm di masa depan,” tambah pria yang akrab dipanggil Aris ini.

SI KEPO “Eksa anak pertama saya, mempunyai keingintahuan tentang apa saja, alias kepo. Saking kepo-nya kadangkala, saya kebingungan menjawab semua pertanyaannya. Suatu hari, saat kami berdua ke warung, ada pembeli lain, seorang pria bertato. Dengan polosnya Eksa bertanya kepada saya, ‘Ibu itu kenapa tangannya digambar gambar. Kan gak boleh yaaa…’ Saat itu saya hanya bisa nyengir saja.” Suci Purnama Sari, mama dari Eksa Prayogo (4,2).

BOSAN JAWAB “Anakku dalam fase cerewet dan kritis. Apa pun kerap ditanyakan. Bah kan yang sudah dia tanyakan, di tanyakan lagi olehnya. Walau kocak, tapi kami suka lelah juga menjawabnya. Walau lelah, kami senang dan akan kami jawab sebisa mungkin.” Jumawati, mama dari Rafello Kenzhu Sundayadi (3,4).

JAWABNYA SAMPAI CAPEK “Panggilannya Haikal, dia anak aktif, cerewet, dengan rasa keingintahuan yang besar. Suatu ketika, dia memegang sesuatu, terus tanya sama saya, ‘Yah, ni apa to? terus buat apa? belinya di mana?” Pernah juga, dia pegang pensil, ‘ni namanya apa?’ dijawab, ‘Ini pensil’. Eh dia tanya lagi, ‘pensil apa?’ Saya jawab, ‘pensil warna’. Pertanyaannya tidak berhenti, dia nanya lagi, ‘warna apa?”, begitu seterusnya. Pokoknya tiap muncul jawaban, bagian belakangnya akan ditanya lagi.” Bayu Pratama, papa dari Raffasya Haikal Rizkiano (4).

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *