Odha Tetap Berhak Punya Keturunan Bag2

Kunci Sukses Pmtct

Menurut literatur, program pencegahan penularan ibu ke anak (PMTCT) berhasil menurunkan risiko dari 30-40% menMadi kurang dari 6-8, bahkan bisa hingga 2%, penularan HIV/AIDS pada ibu ke bayi. Namun, untuk bisa sukses melakukan program ini, ODHA dan pasangansMuga keluargasperlu me merhatikan empat pilar PMTC, yaitu: • Ibu minum obat ARV dengan tuMuan menurunkan kadar virus. • Memilih cara persalinan sesar saat melahirkan.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

  • %ayi minum ARV selama 6 minggu sebagai upaya profi laksis. • Pemilihan nutrisi bayi yaitu ASI atau susu formula. Tapi dianjurkan bukan ASI ODHA. Sukses tidaknya program PMTCT ini memang tidak bisa dilihat saat dilakukan persiapan, pembuahan, hamil, atau bersalin. Keberhasilan baru bisa dibuktikan melalui pemeriksaan bayi selama 3 periode, yaitu: • kadar virus pada bayi saat umur 1 bulan. • kadar virus pada bayi kala usia 4-6 bulan.

  • Pemeriksaan anti-HIV saat anak berusia 18 bulan. Sayangnya, untuk di Indonesia, evaluasi keberhasilan program PMTCT ini masih sulit, karena harus melibatkan beberapa institusi, seperti: Puskesmas, RS berbagai klasifikasi sekunder dan tersier, juga LSM. Meski demikian, penting untuk memastikan ODHA secara konsisten dan kontinu me ngonsumsi ARV lebih dari enam bulan. Kenapa enam bulan? Literatur menunjukkan, mengonsumsi ARV selama 6 bulan dapat menurunkan kadar virus menjadi tidak terdeteksi. Nah, komitmen inilah yang lebih menentukan kesuksesan program PMTCT.

Pasangan Aman Jika Disiplin Arv

Meski belum ada program khusus untuk tidak menularkan virus pada pasangan yang bukan ODHA (diskor dan), segala sesuatunya bisa tetap aman, kok. Kuncinya? Lagi-lagi ada pada ODHA dalam mengonsumsi ARV. Jadi, sekalipun memilih pembuahan dengan cara natural alias lepas kondom, diskordan tetap bisa selamat dari penularan infeksi HIV/AIDS jika pasangannya yang ODHA disiplin dalam menjalani program ARV (yang harus dijalaninya seumur hidup). Selain itu, pasangan bukan ODHA harus rutin melakukan VCT (Voluntary Counseling Test) sebanyak 4 kali dalam setahun, lalu pemeriksaan CD4 sebanyak 3 kali setahun, dan VL (viral load test) sekali setahun. Tujuannya, tak lain untuk memastikan pasangan bukan ODHA tidak terinfeksi virus HIV.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Sukses Berbuka Puasa Bersama

Berbuka bersama dengan duduk berke liling memiliki banyak manfaat. Ketika duduk, kita akan makan lebih pelan sehingga cen derung makan secukupnya. Kita bisa lebih memerhatikan apa yang dimakan sehingga memberi kepuasan di mata, sekaligus mengontrol berapa banyak yang masuk ke mulut. Karena itu, para psikolog dan konselor keluarga menekankan pentingnya acara rutin duduk makan bersama.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Keuntungan

  • Makanan keluarga cenderung lebih sehat dan berimbang dibanding makanan yang dibeli di luar. • Keluarga secara tidak langsung akan belajar untuk bekerja sama dalam merencanakan menu makanan, mempersiapkan, memasak, dan membereskan. • Orangtua juga dapat mengajari anak-anak tentang tata krama dan kebiasaan makan yang baik. • Makan bersama sambil duduk merupa kan saat pemberian nutrisi bagi seluruh keluarga dan ajang berkomunikasi yang efektif.

  • • Duduk bersama menikmati makanan dapat meningkatkan kualitas perkawinan. • Duduk bersama untuk makan secara teratur membantu kita menjaga keterbukaan dalam berkomunikasi dengan pasangan. • Makan bersama dapat menjadi jangkar keluarga; menjadi ketetapan yang mene nangkan untuk keseharian para anggota keluarga. • Dengan mementingkan dan memasukkan acara makan keluarga ke dalam jadwal harian, hal ini menunjukkan kepada pasangan dan anak-anak betapa mereka merupakan prioritas utama dalam kehidupan kita.

Kunci Sukses

  • Upayakan untuk benar-benar bisa berbuka puasa bersama minimal empatlima kali selama Ramadan. • Buatlah daftar makanan yang disukai semua anggota keluarga. Gunakan daftar ini untuk merencanakan menu sehat keluarga. • Pilih menu keluarga yang praktis sehingga hanya membutuhkan waktu singkat untuk menyiapkannya. Simpan menu yang pembuatannya lebih memakan waktu untuk waktu lain yang lebih longgar. • Matikan TV dan semua telepon genggam selama waktu berbuka. • Jaga pembicaraan di saat makan bersama agar tetap positif dan menyenangkan.

Topik-Topik Yang Dapat Dibicarakan

  • Apa kejadian yang paling disukai hari ini? • Apa tantangan terbesar berpuasa hari ini? • Diskusi tentang rencana mudik. • Membahas liburan yang ingin dilakukan bersama.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Makna Tatapan Bayi Baru Lahir

Penelitian yang dilakukan di University of Helsinki dan Children’s Hospital yang berada di Helsinki University Central Hospital menunjukkan, kemampuan bayi baru lahir dalam menatap objek berkaitan dengan kemampuan kognitif visualnya saat masa anak-anak nanti. Rendahnya kemampuan kognitif visual sering kali dialami oleh anak-anak yang pada saat lahir mengalami kekurangan oksigen atau lahir sangat prematur, demikian menurut Dr. Sampsa Vanhatalo, kepala peneliti yang juga profesor di bidang clinical neurophysiology. Dengan adanya studi ini, para ahli dapat mengenali sejak dini adanya masalah kognitif dan juga cara penanganannya.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Ajarkan Fokus Sejak Bayi

Jika ingin anak Mama memiliki kemampuan konsentrasi yang baik saat besar, ajarkan sejak bayi. “Berbagai pengalaman bayi pada masa awal kehidupannya dapat membantu perkembangan otaknya, sehingga ia bisa berfokus pada objek dan orang,” kata Jill Stamm, PhD, salah satu pendiri New Directions Institute for Infant Brain Development dan penulis buku Bright From the Start. Mengajak bayi berbicara sambil menatapnya merupakan salah satu cara untuk melatih fokusnya. “Posisikan bayi dengan baik, sehingga ia dapat melihat Mama dan juga objek yang Mama bicarakan,” saran Stamm. Yang juga penting, batasi penggunaan telepon seluler saat sedang bersama bayi. “Saat Mama berinteraksi dengan bayi sambil berbicara di telepon, bayi akan melihat bahwa Mama tidak benar-benar berfokus padanya. Otomatis, dia juga tidak akan berfokus pada Mama,” kata Stamm.

GAK SABARAN “Di dalam restoran, baru saja saya mendudukkan Rafael di baby chair, Rafael langsung mengatakan, ‘Hmmmm… naaaakk,’ sambil mengecap lidahnya. Keruan saja pelayan yang mengantarkan buku menu jadi senyum-senyum geli melihat tingkah Rafael. Saat menunggu pesanan diantar, Rafael rewel, mungkin dia bosan atau sudah lapar. Lucunya, saat makanan sudah tersaji di atas meja, orang pertama yang heboh adalah Rafael. Dia tidak sabar untuk menyantapnya, bahkan sampai menarik tangan saya agar segera diberikan makanan, padahal saya sedang mendinginkan makanan buatnya. Beneran saja, setelah dingin dan diberikan kepadanya, Rafael lahap menyantapnya seakan-akan dia takut tidak kebagian makanan, ha ha ha….” Yenni Fransiska, mama dari Rafael Tristan Mn (20 bulan)

MAKANNYA HEBOH “Anakku itu kalau dikasih makan sumringah buanget. Setiap menyuapinya, saya lalukan saat kami makan bersama. Awalnya, saya coba dulu sedikit, eh, habis. Lalu, tambah lagi, wuiih, habis lagi. Lucunya, saat sedang disuapi itu dia tampak gembira, tangan dan kakinya selalu bergerak-gerak, pantatnya pun naik turun, ekspresi mukanya ceria sekali. Malah saking hebohnya makan, dia sampai kentut tepat di depan papanya yang tengah makan. Ha ha ha… papanya dapat bonus!” Winda NF, mama dari Luthfy Sakhi Z. (6 bulan)

MAKAN BERSAMA SI KECIL

PEDULI KEPADA ORANG LAIN “Setiap hari Minggu, saya sekeluarga biasa makan bersama di restoran langganan. Saat menunggu makanan disajikan, tamu restoran di sebelah kami, makanannya sudah siap. Tapi, tiba-tiba entah mengapa, pas mereka mau ma kan, makanannya tumpah ke lantai. Duuh, berserakan, deh, makanannya. Melihat itu, Sakha langsung mengambil tisu dari tas saya, lalu berlari menghampiri tamu tersebut, ‘Icu Om lap eja,’ katanya dengan polos. Si Om yang disapa Sakha langsung tersenyum dan bilang ‘Terima kasih, Ganteng,’ kepada Sakha. Gak nyangka, deh, kepeduliannya sama orang lain sudah terlihat sedari kecil. Alhamdullillah.” Nofa Erlisa, mama dari A. Sakha Pasma Wijaya (2,5)

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

SUAP-SUAPAN “Ini cerita lucu makan bareng si kecil. Waktu saya makan, si cantik liatin aja. Saat itu tanpa disadari, di luar mulut saya ada sisa makanan yang tertinggal. Melihat itu, Naila mengambil makanan tersebut. Saya kira mau dia buang, eh, tak tahunya malah dia makan, he he he…. Lalu, dia bilang, ‘Mamam… mamam.’ Sekalian, deh, supaya seru, kami makannya suap suapan, he he he.…” Alviya Purnamasari, mama dari Naila Salsabila Irviya (14 bulan)

MENGHABISKAN LALAPAN “Alhamdulillah, setiap hari aku selalu makan bersama anakku tersayang. Menunya harus selalu sayur sop yang isinya wortel, kentang, dan buncis, kadang juga isinya sayur bayam plus emes. Apalagi kalau ada telur dadar, wah, anakku langsung lahap makannya. Lain lagi kalau makan di luar, setiap pesen ayam goreng, lalapannya yang menghabiskan adalah si kecil, nasi atau ayamnya malah tak disentuhnya, he he….” Meili Listiani Utami, mama dari Marsha Dahler Hidayat (18 bulan)

MELEMPAR JERUK “Suatu hari kami sekeluarga diundang makan malam bersama di rumah teman. Saat makan bersama, Rayven minta jeruk. Sebelum mem berikan jeruk kepadanya, saya kasih tahu jeruknya tidak untuk dilempar, karena bukan bola. Tapi, saat kami asyik makan, tiba-tiba Rayven melempar jeruknya ke meja makan, langsung nyemplung di mangkuk sup. Alhasil, kami yang ada di meja makan terkena sup. Untungnya tidak ada yang marah, malah tertawa melihat aksi Rayven.” Indah Wahyuni, mama dari Rayven Prayogo (2)

Sumber : pascal-edu.com