Memberikan Kamar Pribadi Pada Anak Untuk Melatih Kemandirian Sejak Dini

Memberikan ruang pribadi atau kamar pribadi pada anak akan berdampak baik pada perkembangannya. Moms, penting ya untuk membiasakan anak tidur sendiri. Meskipun rumah kita minimalis tetap saja penting untuk memberikan satu kamar khusus untuk anak. Dengan anak memiliki kamar sendiri, akan ada banyak manfaat yang bisa didapat. Apa saja sih manfaat anak memiliki kamar sendiri?

Saat masih kecil mengajak anak tidur bersama dalam satu kamar tidak ada salahanya. Tapi, saat anak mulai dewasa ada baiknya mereka mulai tidur sendiri di kamarnya. Bahkan para psikolog ahli banyak menyarankan untuk anak sudah terbiasa tidur sendiri sejak masih TK. Mengapa? karena hal ini akan berdampak baik kepada tumbuh kembang si anak.

Dengan memiliki kamar tidur sendiri anak akan bertanggung jawab dengan kebersihan dan kerapihan set kamar tidur miliknya. Meskipun bukan sepenuhnya tanggung jawab si anak bisa kok bunda menekankan dan memberikan pengertian pada anak jika kamar tidurnya adalah tempat utamanya dan harus ia yang bertanggung jawab.

Untuk membiasakan hal tersebut, anda bisa melibatkan anak untuk bersama sama membersihkan kamar tidurnya. Dan, jika anak bermain di kamar ajari juga untuk selalu membereskan mainannya agar kamar bersih kembali. Anda juga bisa menyiapkan beberapa laci tersembunyi seperti pada bagian tempat tidur anak maupun di furniture set kamar anak yang lain untuk tempat anak menyimpan mainan mainannya.

Jika dirasa cukup, anda bisa mulai untuk memberikan tanggung jawab penuh pada anak atas kamar tidurnya. Jadi, jika kamarnya berantakan cukup anda mengingatkannya saja untuk segera membereskannya kembali.

Si Bandel yang Cerdas Bagian 4

4. Memberi arahan. Kita juga perlu mengarahkan anak jika apa yang dilakukannya tak layak. Berikan contoh bagaimana mengungkapkan keinginan dan pendapatnya dengan baik, bukan dengan teriakteriak, merusak barang, berlaku agresif, dan lainnya. Ini perlu kita ajarkan karena perilaku ini pun bisa terjadi di luar rumah yang dapat mengganggu hubungannya dengan orang lain, seperti guru atau teman. Apalagi di usia ini, anak masih belum mampu mengontrol perilaku dan emosinya dengan baik.

Berkomunikasi dua arah merupakan cara yang sangat baik untuk mengetahui isi hati anak yang sebenarnya, kemudian kita memberikan arahan-arahan tanpa harus melarang. Apabila kita terlalu longgar atau malah cuek tanpa pengarahan, sekilas memang anak mendapatkan kebebasannya, tetapi sebenarnya ia rugi karena perilakunya tak terarah. Faktor-faktor yang ada di belakang kebandelannya tidak teridenti!kasi sehingga kebutuhan anak yang sebenarnya jadi terlewatkan dan tidak terpenuhi. Ini akan berpengaruh terhadap potensi anak yang seharusnya bisa terbangun malah tumpul dan mungkin saja anak akan seterusnya menjadi anak bandel.

5. Menjadi guru dan sahabat anak. Di rumah pun kita tak boleh hanya berlaku sebagai orangtua tetapi juga guru dan sahabat anak. Maksudnya, ketika ia bertanya tentang hal yang tak diketahuinya, kita perlu memberi informasi secara baik. Jika kita tak mengetahuinya, harus mencari jawaban entah dengan membuka buku, bertanya ke orang yang lebih tahu, atau mencari informasi di internet.

Ajak anak mencari informasi tersebut bersamasama supaya ia bisa lebih merasakan sebuah usaha dari keingintahuannya. Jika anak mengajak kita bermain pasel, sepak bola, menari, sebisa mungkin ikuti keinginannya. Jadilah sahabatnya, penuhi keinginannya supaya ia merasakan keharmonisan dalam keluarga. Semoga dengan lima cara di atas, kita tak terjebak lagi untuk memberikan cap/ stigma/label “bandel” pada si buah hati ya, Mama Papa.

Si Bandel yang Cerdas Bagian 3

Masalah lain pun perlu dicari penyebab dan segera diselesaikan, seperti: malas belajar, mungkin pola pengajarannya tak menarik sehingga kita perlu mengemasnya lebih menarik atau bersepakat membuat jadwal pelajaran. Kalau si buah hati suka berulah macam-macam, naik ke atas pagar kemudian melompat, bermain bola di dalam rumah, kita bisa berikan alternatif kegiatan kepadanya. Masukkan ia ke klub olahraga untuk menyalurkan hobi dan energinya, les musik atau menyanyi, dan lainnya. Jika anak terlalu gemar bermain playstation dan sulit sekali dilarang, buat saja kesepakatan bersama kapan ia boleh bermain playstation dan kapan tidak boleh. Masukkan unsur reward and punishment supaya anak tidak main-main dalam mematuhi kesepakatan tersebut.

3. Menerapkan pola asuh demokratis. Apalagi terhadap anak yang sifat dan karakternya selalu ingin tahu, serta memiliki kreativitas yang tinggi, kita tidak boleh memaksakan pola asuh atoriter. Bila kita “sok” disiplin dengan aturan, maka bisa membuat anak merasa terkekang. Walhasil “kebandelannya” malah muncul tambah kuat. Bisa saja ia berubah menjadi anak pemberontak, pembohong, dan pembangkang. Anak memang diharapkan bisa mendengarkan, patuh, dan santun kepada orangtuanya.

Tapi orangtua juga perlu membuka celah untuknya mengutarakan pendapat/ perasaannya, keinginannya, keingintahuannya dengan berdiskusi atau bernegosiasi. Terkadang, keinginan yang sangat kuat pada anak berubah dengan perilaku membangkang, meski sebenarnya ia hanya berusaha kritis, mengungkapkan sesuatu dengan blak-blakan. Jika demikian, mungkin kita perlu memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak. Mungkin selama ini kita terlalu otoriter, tak mau memerhatikan keinginan anak.

Pola asuh demokratis memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pemikirannya dengan leluasa dan memberi peluang bagi anak untuk membuat pilihan sendiri dalam batas-batas tertentu. Yang dimaksud batas-batas tertentu adalah anak tidak dibiarkan sebebasbebasnya tetapi kita arahkan; yang baik dan ia butuhkan, kita izinkan, namun di luar itu perlu batasi. Misalnya, anak ingin masuk ke klub sepak bola, kita izinkan. Tetapi jika ia ingin menambah kegiatannya, ikut les musik misalnya, kita perlu melihat apakah ia memiliki waktu yang cukup atau tidak mengingat ia harus sekolah dan belajar di rumah.

Berikut ini adalah informasi lebih mengenai tempat kursus IELTS Jakarta terbaik untuk anak yang akan mengikuti tes tersebut.

Si Bandel yang Cerdas Bagian 2

Hati-hati, labelling negatif ini bisa berdampak negatif; anak yang sebenarnya tak ingin berbuat negatif, tapi karena sering dicap “bandel” lambat laun akan menganggap dirinya benar-benar bandel. Perilaku negatif, seperti memukul adik, membantah perkataan orangtua, atau lainnya yang semula tak serius dilakukan, pada akhirnya akan ia lakukan sebagai bentuk kekesalan atau perilaku ekspresifnya.

YUK, PAHAMI ANAK!

Jadi, janganlah tergesagesa memberikan cap bandel/ nakal pada anak. Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan? Pahami anak dengan perilaku seperti ini sehingga kecerdasannya tetap akan terasah, ia pun dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Jangan sampai potensinya terhambat hanya gara-gara cap atau label yang kita sematkan padanya. Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.

1. Berikan aktivitas variatif dan menantang. Bisa saja “kebandelannya” itu terkait dengan ketidakpuasannya terhadap pengetahuan yang ingin ia dapat. Maka itu, anak terkesan keras kepala dan tak mau diatur. Anak cerdas tapi “bandel” biasanya butuh aktivitas menantang, variatif, tidak monoton dan tidak terlalu mengekang. Untuk itu, berikan aktivitas yang beragam supaya keinginannya bisa tersalurkan. Aktivitas yang berkaitan dengan art & craft, bisa dicoba. Begitu juga olahraga rutin atau ikut klub tertentu, bermain permainan konstruksi (lego dan sejenisnya) ataupun permainan yang mengasah otak seperti pasel, merangkai alat mekanik sederhana, dan lainnya.

2. Temukan akar masalahnya. Bisa juga “kebandelan” anak tersulut lantaran ada ketidaknyamanan di dalam hatinya. Kita perlu menemukan akar masalah dari ketidaknyamanan tersebut. Anak yang kerap mengganggu adik, bisa jadi karena ia cemburu kepada kita yang menurutnya pilih kasih. Ia kesal perhatian kita kepadanya direbut adik sehingga si adik kerap menjadi sasaran kemarahannya. Nah, kita koreksi diri, apakah memang betul selama ini terlalu memerhatikan si adik dan tak peduli pada si kakak? Jika selama ini kita alpa tentu kita harus mengubahnya dengan berusaha seadil mungkin sambil memberi pengertian kepada si kakak jika kita tak membedakan ia dan adiknya dalam memberikan kasih sayang.

Si Bandel yang Cerdas

Untuk urusan pelajaran, si buah hati jagonya. Soal-soal matematika yang sulit berhasil dikerjakannya dengan baik. Begitu pun dengan sejumlah mata pelajaran lainnya. Hanya saja… nah, ini dia! Si buah hati suka mengompori temantemannya untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar peraturan, semisal mengajak teman-temannya untuk naik pohon beramairamai padahal pohon tersebut cukup tinggi.

Ia juga suka berteriak-teriak di dalam kelas dan melompat-lompat di atas meja kelas. Akibatnya, Mama Papa bolak-balik dipanggil ke sekolah. Hmmm… bandelkah si buah hati? Kalau mau jujur, ketika mendapati anak melakukan tindakan indisipliner, sering melanggar peraturan, bertingkah laku agresif, tidak patuh terhadap perintah, suka usil kepada teman atau adiknya, menjadi provokator, umumnya orangtua dan orang dewasa lain akan langsung mencapnya sebagai anak nakal atau bandel. Akan tetapi, benarkah ia memang bandel? Mari kita simak ulasan ahlinya berikut ini.

BERSIFAT SUBJEKTIF

Sebetulnya, “nakal” atau “bandel” sangat relatif, bergantung pada sudut mana kita melihat dan di situasi seperti apa kejadian tersebut berlangsung, juga seberapa sering hal tersebut terjadi. Di sisi lain, anak usia SD masih butuh bimbingan, ia belum mampu memahami sesuatu dengan sangat baik, belum mampu mengontrol perilakunya dengan sangat baik, sehingga wajar jika muncul kenakalan-kenakalan. Jadi, “bandel” atau “nakal” umumnya hanya cap yang secara subjektif kita tempelkan pada anak. Kenapa subjektif?

Karena mungkin saja ia bukan bandel melainkan kreatif, punya keingintahuan yang besar, penasaran, cari perhatian, ingin menunjukkan kemampuannya, dan sebagainya. Umpama: anak menjadi provokator, meminta teman-temannya untuk naik beramai-ramai ke atas pohon, melompati pagar sekolah, menirukan gerakan superhero dengan naik ke atas meja dan melompat.

Itu dilakukannya bukan karena ia ingin berbuat jahil atau ingin melanggar peraturan, melainkan mungkin ingin menunjukkan bahwa ia memiliki teman-teman yang sangat kompak yang selalu melakukan sesuatu bersamasama. Bisa juga, ia ingin tahu rasanya bagaimana berada di ketinggian kemudian melompat bersama-sama? Sayangnya, ketidaksesuaian perilaku anak dengan harapan, sering kali membuat kita keburu mencap anak dengan “bandel” atau “nakal”.

Agar anak yang cerdas dapat dioptimalkan, berikan ia pelatihan di tempat kursus bahasa Perancis di Jakarta.