Hati-hati, labelling negatif ini bisa berdampak negatif; anak yang sebenarnya tak ingin berbuat negatif, tapi karena sering dicap “bandel” lambat laun akan menganggap dirinya benar-benar bandel. Perilaku negatif, seperti memukul adik, membantah perkataan orangtua, atau lainnya yang semula tak serius dilakukan, pada akhirnya akan ia lakukan sebagai bentuk kekesalan atau perilaku ekspresifnya.

YUK, PAHAMI ANAK!

Jadi, janganlah tergesagesa memberikan cap bandel/ nakal pada anak. Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan? Pahami anak dengan perilaku seperti ini sehingga kecerdasannya tetap akan terasah, ia pun dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Jangan sampai potensinya terhambat hanya gara-gara cap atau label yang kita sematkan padanya. Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.

1. Berikan aktivitas variatif dan menantang. Bisa saja “kebandelannya” itu terkait dengan ketidakpuasannya terhadap pengetahuan yang ingin ia dapat. Maka itu, anak terkesan keras kepala dan tak mau diatur. Anak cerdas tapi “bandel” biasanya butuh aktivitas menantang, variatif, tidak monoton dan tidak terlalu mengekang. Untuk itu, berikan aktivitas yang beragam supaya keinginannya bisa tersalurkan. Aktivitas yang berkaitan dengan art & craft, bisa dicoba. Begitu juga olahraga rutin atau ikut klub tertentu, bermain permainan konstruksi (lego dan sejenisnya) ataupun permainan yang mengasah otak seperti pasel, merangkai alat mekanik sederhana, dan lainnya.

2. Temukan akar masalahnya. Bisa juga “kebandelan” anak tersulut lantaran ada ketidaknyamanan di dalam hatinya. Kita perlu menemukan akar masalah dari ketidaknyamanan tersebut. Anak yang kerap mengganggu adik, bisa jadi karena ia cemburu kepada kita yang menurutnya pilih kasih. Ia kesal perhatian kita kepadanya direbut adik sehingga si adik kerap menjadi sasaran kemarahannya. Nah, kita koreksi diri, apakah memang betul selama ini terlalu memerhatikan si adik dan tak peduli pada si kakak? Jika selama ini kita alpa tentu kita harus mengubahnya dengan berusaha seadil mungkin sambil memberi pengertian kepada si kakak jika kita tak membedakan ia dan adiknya dalam memberikan kasih sayang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *