Masalah lain pun perlu dicari penyebab dan segera diselesaikan, seperti: malas belajar, mungkin pola pengajarannya tak menarik sehingga kita perlu mengemasnya lebih menarik atau bersepakat membuat jadwal pelajaran. Kalau si buah hati suka berulah macam-macam, naik ke atas pagar kemudian melompat, bermain bola di dalam rumah, kita bisa berikan alternatif kegiatan kepadanya. Masukkan ia ke klub olahraga untuk menyalurkan hobi dan energinya, les musik atau menyanyi, dan lainnya. Jika anak terlalu gemar bermain playstation dan sulit sekali dilarang, buat saja kesepakatan bersama kapan ia boleh bermain playstation dan kapan tidak boleh. Masukkan unsur reward and punishment supaya anak tidak main-main dalam mematuhi kesepakatan tersebut.

3. Menerapkan pola asuh demokratis. Apalagi terhadap anak yang sifat dan karakternya selalu ingin tahu, serta memiliki kreativitas yang tinggi, kita tidak boleh memaksakan pola asuh atoriter. Bila kita “sok” disiplin dengan aturan, maka bisa membuat anak merasa terkekang. Walhasil “kebandelannya” malah muncul tambah kuat. Bisa saja ia berubah menjadi anak pemberontak, pembohong, dan pembangkang. Anak memang diharapkan bisa mendengarkan, patuh, dan santun kepada orangtuanya.

Tapi orangtua juga perlu membuka celah untuknya mengutarakan pendapat/ perasaannya, keinginannya, keingintahuannya dengan berdiskusi atau bernegosiasi. Terkadang, keinginan yang sangat kuat pada anak berubah dengan perilaku membangkang, meski sebenarnya ia hanya berusaha kritis, mengungkapkan sesuatu dengan blak-blakan. Jika demikian, mungkin kita perlu memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak. Mungkin selama ini kita terlalu otoriter, tak mau memerhatikan keinginan anak.

Pola asuh demokratis memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pemikirannya dengan leluasa dan memberi peluang bagi anak untuk membuat pilihan sendiri dalam batas-batas tertentu. Yang dimaksud batas-batas tertentu adalah anak tidak dibiarkan sebebasbebasnya tetapi kita arahkan; yang baik dan ia butuhkan, kita izinkan, namun di luar itu perlu batasi. Misalnya, anak ingin masuk ke klub sepak bola, kita izinkan. Tetapi jika ia ingin menambah kegiatannya, ikut les musik misalnya, kita perlu melihat apakah ia memiliki waktu yang cukup atau tidak mengingat ia harus sekolah dan belajar di rumah.

Berikut ini adalah informasi lebih mengenai tempat kursus IELTS Jakarta terbaik untuk anak yang akan mengikuti tes tersebut.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *