Si Bandel yang Cerdas Bagian 4

4. Memberi arahan. Kita juga perlu mengarahkan anak jika apa yang dilakukannya tak layak. Berikan contoh bagaimana mengungkapkan keinginan dan pendapatnya dengan baik, bukan dengan teriakteriak, merusak barang, berlaku agresif, dan lainnya. Ini perlu kita ajarkan karena perilaku ini pun bisa terjadi di luar rumah yang dapat mengganggu hubungannya dengan orang lain, seperti guru atau teman. Apalagi di usia ini, anak masih belum mampu mengontrol perilaku dan emosinya dengan baik.

Berkomunikasi dua arah merupakan cara yang sangat baik untuk mengetahui isi hati anak yang sebenarnya, kemudian kita memberikan arahan-arahan tanpa harus melarang. Apabila kita terlalu longgar atau malah cuek tanpa pengarahan, sekilas memang anak mendapatkan kebebasannya, tetapi sebenarnya ia rugi karena perilakunya tak terarah. Faktor-faktor yang ada di belakang kebandelannya tidak teridenti!kasi sehingga kebutuhan anak yang sebenarnya jadi terlewatkan dan tidak terpenuhi. Ini akan berpengaruh terhadap potensi anak yang seharusnya bisa terbangun malah tumpul dan mungkin saja anak akan seterusnya menjadi anak bandel.

5. Menjadi guru dan sahabat anak. Di rumah pun kita tak boleh hanya berlaku sebagai orangtua tetapi juga guru dan sahabat anak. Maksudnya, ketika ia bertanya tentang hal yang tak diketahuinya, kita perlu memberi informasi secara baik. Jika kita tak mengetahuinya, harus mencari jawaban entah dengan membuka buku, bertanya ke orang yang lebih tahu, atau mencari informasi di internet.

Ajak anak mencari informasi tersebut bersamasama supaya ia bisa lebih merasakan sebuah usaha dari keingintahuannya. Jika anak mengajak kita bermain pasel, sepak bola, menari, sebisa mungkin ikuti keinginannya. Jadilah sahabatnya, penuhi keinginannya supaya ia merasakan keharmonisan dalam keluarga. Semoga dengan lima cara di atas, kita tak terjebak lagi untuk memberikan cap/ stigma/label “bandel” pada si buah hati ya, Mama Papa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *