Si Bandel yang Cerdas

Untuk urusan pelajaran, si buah hati jagonya. Soal-soal matematika yang sulit berhasil dikerjakannya dengan baik. Begitu pun dengan sejumlah mata pelajaran lainnya. Hanya saja… nah, ini dia! Si buah hati suka mengompori temantemannya untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar peraturan, semisal mengajak teman-temannya untuk naik pohon beramairamai padahal pohon tersebut cukup tinggi.

Ia juga suka berteriak-teriak di dalam kelas dan melompat-lompat di atas meja kelas. Akibatnya, Mama Papa bolak-balik dipanggil ke sekolah. Hmmm… bandelkah si buah hati? Kalau mau jujur, ketika mendapati anak melakukan tindakan indisipliner, sering melanggar peraturan, bertingkah laku agresif, tidak patuh terhadap perintah, suka usil kepada teman atau adiknya, menjadi provokator, umumnya orangtua dan orang dewasa lain akan langsung mencapnya sebagai anak nakal atau bandel. Akan tetapi, benarkah ia memang bandel? Mari kita simak ulasan ahlinya berikut ini.

BERSIFAT SUBJEKTIF

Sebetulnya, “nakal” atau “bandel” sangat relatif, bergantung pada sudut mana kita melihat dan di situasi seperti apa kejadian tersebut berlangsung, juga seberapa sering hal tersebut terjadi. Di sisi lain, anak usia SD masih butuh bimbingan, ia belum mampu memahami sesuatu dengan sangat baik, belum mampu mengontrol perilakunya dengan sangat baik, sehingga wajar jika muncul kenakalan-kenakalan. Jadi, “bandel” atau “nakal” umumnya hanya cap yang secara subjektif kita tempelkan pada anak. Kenapa subjektif?

Karena mungkin saja ia bukan bandel melainkan kreatif, punya keingintahuan yang besar, penasaran, cari perhatian, ingin menunjukkan kemampuannya, dan sebagainya. Umpama: anak menjadi provokator, meminta teman-temannya untuk naik beramai-ramai ke atas pohon, melompati pagar sekolah, menirukan gerakan superhero dengan naik ke atas meja dan melompat.

Itu dilakukannya bukan karena ia ingin berbuat jahil atau ingin melanggar peraturan, melainkan mungkin ingin menunjukkan bahwa ia memiliki teman-teman yang sangat kompak yang selalu melakukan sesuatu bersamasama. Bisa juga, ia ingin tahu rasanya bagaimana berada di ketinggian kemudian melompat bersama-sama? Sayangnya, ketidaksesuaian perilaku anak dengan harapan, sering kali membuat kita keburu mencap anak dengan “bandel” atau “nakal”.

Agar anak yang cerdas dapat dioptimalkan, berikan ia pelatihan di tempat kursus bahasa Perancis di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *